Silahkan klik PuisiLover@groups.facebook.com untuk bergabung bersama kami di facebook

Minggu, 20 Februari 2011

Arsip Oktober 2009 (Bag. 2)


Sebuah kejadian.

Langit biru telah menghitam.
Gelegar petir begitu menyiksa telinga.
Angin pun tak bersahabat lagi.
Sungguh nyali ciut dibuatnya.

Bersembunyi dari kelemahan raga.
Ditemukan oleh ketakutan rasa.
Dikucilkan sang mentari ketenangan.
Berharap waktu berlari sekencang-kencangnya.

Tiba-tiba tersadar akan memori kedamaian kemarin.
Yang dibuang tak dianggap.
Kini hanya dapat merindu.
Akan satu hari yg lalu.

16 Oktober 2009 jam 13:16 ·------------------------------------------===============%%%%%%%%

Indokage Indomie Indokare


 Kehilanganku.

Kertas-kertas penuh coretan berserakan.
Buku-buku kumal berhamburan.
Ku obrak-abrik masa lalu.
Kucari kertas putih berpuisi.

Mencoba mendekati alfa otak ku.
Melepaskan cengkraman sang omega.
Lebur bersama kebingungan.
Letih menunggu pencerahan.

Namun jiwa tak tergantikan.
Karna bukan sekedar untuk dibaca.
Demi kejayaan memoar hati.
Secarik kertas putih berpuisi.


16 Oktober 2009 jam 13:20 ·------------------------------------------===============%%%%%%%%

Indokage Indomie Indokare 


Come on!

Mencoba maju dan hiraukan luka.
Tersandung retakan masa lalu.
Mereka mungkin tak mengerti.
Tapi ku rasakan air matamu.

Fell what you fell!

Ketika malu membuat raga gundah.
Ketika sedih membuat jiwa lelah.
Tepian pantai tak seindah dulu.
Hingga tak ada tempat yg kau tuju.

Listen music in your phone!

Lenyapkan dunia tak sempurna.
Bersama hati yang berirama.
Gerakkan tangan dan hentakkan kaki.
Kumpulkan semangat yg terburai.

Are you ready for tomorrow?

Ayo buat langkah kecilmu.
Menerjang ombak tak berhati.
Teriakkan kenangan pada langit.
Hingga terdengar para malaikat.

It's time to next level!

Inilah tempatnya temanku.
Taman hijau penyembuh ajaib.
Bersama kita tertawa riang.
Bersama wujudkan mimpi utopia.

You'll never be alone again.


16 Oktober 2009 jam 13:24 ·-----------------------------------------===============%%%%%%%%

Indokage Indomie Indokare 


Entah.

Dunia tak mau memberi.
Pelajaran dari derita ibu.
Memunggut sisa-sisa kesenangan.
Entah kapan kiamat akan datang.

Bintang berusaha secerah mungkin.
Tapi terus saja memudar.
Manusia tak mau mengalah.
Entah kapan kembali bercahaya.

Waktu melaju tanpa henti.
Kaki tak sanggup mengikuti.
Tertinggal di pojokan ruang kedap suara.
Entah kapan malaikat mau menemani.

Jadi ini kehidupan?
Entahlah kawan...
Jadi ini masa depan?
Entahlah kawan...

Entahlah..


16 Oktober 2009 jam 13:38 ·-----------------------------------------===============%%%%%%%%

Indokage Indomie Indokare 


Moment payah.

Mengira sudah sangat mengenalnya.
Ketika ketidakberdayaan memasuki dia.
Tak mampu ku buat keajaiban.
Cuma kalimat kosong yang terujar.
Air mata tak terelakkan.
Spirit terkurung dalam sangkar.

Payah!
Kalah!
Salah!

Sungguh kulitku bisa merasakan.
Sifatmu yang keras membatu.
Tak berdaya mengambil keputusan.
Pasrahkan pada sang waktu.
Menunggu duka yang tersimpan.
Terbakar menjadi abu.

Salah!
Kalah!
Payah!


-----------------------------------------===============%%%%%%%%

Indokage Indomie Indokare 


Ayah vs Anak.

Sepiring tempe tersedia.
Anak meminta.
Ayah tak bisa.
Tetangga meminta.
Habis tanpa sisa.

Anak marah.
Ayah mengaku tak bersalah.
Hati gerah.
Ayah bilang itu salah.
Bertanya pada dunia.

Ayah tertawa.
Bandingkan dengan teman.
Anak kecewa.
Hidup yang berlawanan.
Sedih dalam hati.

Ajaran tak berbudi.
Mengalir dalam nadi.
Anak menjadi dewasa.
Dendam tetap terasa.
Salah siapa?

Tanggal telah ditetapkan.
Duel tak terhentikan.
Menang jadi arang.
Kalah jadi berang.
Ibu tertunduk sedih.

Kepala sekeras platina.
Parang ayah butuh darah.
Golok anak siap membelah.
Maju berdua.
Tewas berdua.


16 Oktober 2009 jam 15:49-----------------------------------------===============%%%%%%%%

Indokage Indomie Indokare 


Outcast.

Lekak lekuk fatamorgana nan ganjil.
Cleopatranya tak layak hidup.
Normalisasi tak menjangkau.
Terlalu aneh untuk diterima.
Mengoloknya seolah keharusan.
Terperosok jauh ke goa kosong.

Sendiri adalah kedamaiannya.
Bermain bersama anubis.
Cita pun membaur dengan pasir.
Tlah runtuh kekuatan berharap.
Sungguh makhluk tanpa makna.
Yang ingin menghilang tanpa sisa.

Kadang pelangi diam-diam menghampiri.
Namun cahaya hanya menakuti.
Sudah lama empati tenggelam lalu mati.
Osiris pun berakhir menyerah.
Mata air terus menguap cepat.
Jantung kemudian kehilangan semangat.

Sewaktu-waktu ceritanya melintas.
Merasuki nurani yang malas beraksi.
Merah darah di tanah telah menghitam.
Firaun pun letih menangis.
Namun tak termakan zaman.
Kisah tentang yang terbuang.


17 Oktober 2009 jam 17:31 ·-----------------------------------------===============%%%%%%%%

Indokage Indomie Indokare 


Mereka yang (merasa) di atas.

Frustasi akan dunia nyata.
Merasa kebenaran mutlak di tangannya.
Menolak perbedaan kasta.
Hanya satu!
Harus satu!
Dibakarnya yang terasa asing.
Dirobohkan yang terlalu tinggi.
Seakan masa lalu dihapus begitu saja.

Tak ada tempat untuk merendah.
Tak ada tempat untuk mengalah.
Mulut yang dibina tlah berbisa.
Tangan yang dijaga tlah bernoda.
Alasan dicari sampai ujung dunia.
Atau dibuat dari darah.
Ironis!
Tragis!

Hanya 2 opsi akhir cerita.
Mati!
Berhasil!
Mimpi dari sang alexander yang agung.
Maka dibuatnya zat awal agar pas.
Kesombongan akan secuil fakta.
Lenyaplah anugrah.
Bertumpuklah sampah.

Terlalu menganggap bijak.
Terlalu dianggap bijak.
Terhormat.
Tanpa hormat.
Bagi hades sama saja.
Sebab kursi telah dipesan.
Anggur telah dipersiapkan.
Atas nama pengabdian.


18 Oktober 2009 jam 7:10 -----------------------------------------===============%%%%%%%%

Tidak ada komentar:

Posting Komentar